Minggu, 12 September 2010

Keutamaan Hadist

بسم الله الرحمن الرحيم
SYARH HADITS – 34
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ t قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ r يَقُولُ : ] مَنْ رَآى مِنْكُمْ مُنْكَرًا  فَلْـيُغَـيِّرْهُ  بِيَدِهِ  فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ  فَبِلِسَانِهِ  فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ  فَبِقَلْبِهِ  وَ ذَلِكَ أَضْعَفُ  الإِيْمَانِ [ رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Dari Abu Sa’id Al Khudri t telah berkata : Aku telah mendengar Rasulullah r bersabda : “Barang siapa diantara kamu melihat kemunkaran hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, jika dia tidak sanggup, maka dengan lisannya, jika tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya Iman”. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

KEUTAMAAN HADITS

Hadits ini membahas masalah amar ma’ruf nahi munkar yang menyebabkan hadits ini memiliki keutamaan yang sangat besar. Bahkan salah satu hadits yang pokok yang sering dibicarakan oleh ulama-ulama, yang sering kita dengarkan dari lisan-lisan para khutaba, yang sering dijadikan dalil oleh ulama-ulama, dan kita dapati dalam banyak kitab-kitab ulama kita. Hadits ini merupakan hadits yang pokok dalam masalah amar ma’ruf nahi mungkar, karena hadits ini menjelaskan tentang “Maratib Ingkar Al Munkar“ (tingkatan-tingkatan dalam mengingkari suatu kemunkaran).
Pembahasan hadits ini, yaitu masalah amar ma’ruf nahi munkar adalah sangat penting, yang menurut ulama dia merupakan salah satu kewajiban yang sangat penting. Imam Nawawi – rahimahullah - menganggap amar ma’ruf nahi munkartermasuk “ مِنْ قِيَامِ الدِّيْنِ ” (tiang-tiang dari Ad Dien). Imam Al Gazali – rahimahullah – (penulis kitab Ihya Ulumuddin) mengatakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar termasuk “ الْقطبُ الأَعْظَمُ ” (kutub yang paling agung) dalam agama ini, dan dia termasuk tugas yang Allah I perintahkan kepada ummat ini.
Imam Asy Syaukani – rahimahullah – mengatakan bahwasanya amar ma’ruf nahi munkar adalah : “ مِنْ أَعْظَمِ الْوَاجِبَاتِ فِي الشَرِيْعَةِ الْمُطَهَّرَةِ  ” (kewajiban-kewajiban yang paling agung dalam syari’at yang suci ini). Dan masih banyak lagi perkataan ulama kita yang menunjukkan tentang keutamaan dan pentingnya permasalahan amar ma’ruf nahi munkar.
Sebagian ulama membedakan masalah amar ma’ruf nahi munkar dengan masalah dakwah. Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin – rahimahullah – memandang ada 3 tingkatan dalam permasalahan seperti ini, yaitu :
1.      Dakwah  ( الدَّعْوَةُ )
2.      Amar ma'ruf nahi munkar ( الأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَ النَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ   )
3.      Merubah kemunkaran  ( تَغْيِيْرُ الْمُنْكَرِ  )
Yang beliau kategorikan sebagai dakwah, adalah sebagaimana kadang kita di masjid-masjid berkhutbah, berceramah, bernasihat kepada orang-orang, menjelaskan tentang Islam. Sedangkan amar ma'ruf nahi munkar adalah ketika kita mengatakan “ kerjakan ini dan jangan kerjakan ini ” (misalnya ketika kita menyuruh orang shalat, melarang orang dari suatu keburukan, dan sebagainya). Ini berbeda dengan dakwah, dimana kita sekedar mengajak, dalam artian memberikan targhib dan tarhib kepada mereka, sedangkan dalam beramar ma'ruf nahi munkar kita langsung memerintah seseorang. Kemudian yang ketiga yaitu merubah kemunkaran, disini kita bukan hanya sekedar memerintah dan melarang saja, tapi langsung kita terlibat, dalam artian kita langsung mencegah orang tersebut dan merubah kemunkaran yang ada padanya.
Namun ulama-ulama yang lain tidak terlalu membedakan ketiga hal tersebut. Ketika mereka membicarakan masalah amar ma'ruf nahi mungkar, mereka juga kadang memasukkan di dalamnya masalah dakwah dan merubah kemunkaran.
Hadits ini mempunyai banyak syahid, artinya banyak hadits yang mendukung atau semakna dengan hadits ini. diantaranya yang terkenal adalah hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Mas’ud t bahwasanya Rasulullah r bersabda :
] مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فيِ أُمَّةٍ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَ أَصْحَابٌ يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَ يَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ مَالاَ يَفْعَلُوْنَ وَ يَفْعَلُوْنَ مَالاَ يُؤْمَرُوْنَ ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَ مَنْ جَاهَدَهُمْ بَلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَ مَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَ لَـيْسَ  وَرَاءَ  ذَلِكَ  مِنَ  الإِيْمَانِ  حَبَّـةُ خَرْدَلٍ [  ( رواه مسلم )
“Tidaklah seorang Nabi yang diutus oleh Allah dalam suatu ummat sebelumku, kecuali ada baginya penolong-penolong dan shahabat-shahabat, mereka berpegang teguh pada sunnahnya dan berqudwah dengan perintahnya, kemudian akan diganti sesudahnya generasi-generasi yang mengatakan apa yang mereka tidak kerjakan dan mengerjakan apa yang tidak diperintahkan, maka siapa yang berjihad (melawan mereka) dengan tangannya maka dia mu’min, dan siapa yang berjihad dengan lisannya maka dia mu’min, dan siapa yang berjihad dengan hatinya maka dia mu’min, dan tidak ada lagi sesudah itu dari Iman walaupun sebesar biji sawi” (HR. Muslim).
Hadits ini semakna dengan hadits ke –34, dan dia dijadikan oleh ulama kita sebagai syahid dari hadits ke –34. Dan pada hadits ini ada tambahan yang penting bahwasanya siapa yang tidak mengingkari kemunkaran walaupun dengan hatinya, berarti  tidak ada lagi keimanan walaupun sebesar biji sawi.

KEUTAMAAN AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR
Telah banyak ulama kita yang berbicara tentang masalah amar ma'ruf nahi munkar, diantaranya Syaikhul Islam Abu Abbas Ibnu Taimiyah – rahimahullah -, beliau mempunyai kitab khusus tentang amar ma'ruf nahi mungkar. Demikian pula Imam Al Khallal – rahimahullah – juga mempunyai kitab khusus tentang amar ma'ruf nahi munkar.
Keutamaan Amar Ma'ruf Nahi Munkar Dalam Al Quran :
1.      Menjadikan pelaku-pelakunya sebagai orang-orang yang beruntung. Sebagaimana firman Allah I:  
 ﴿ وَلْـتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ  ﴾
( آل عمران : 104 )
Dan hendaknya ada diantara kalian segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang berungtung” (QS. Ali Imran : 104)
Dan ini adalah salah satu dalil dari orang yang membedakan antara da’wah dan amar ma'ruf nahi munkar, karena adanya kata “يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ  ”, dan Allah I menutup ayat ini dengan “وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ    “, yang sebenarnya bila dikatakan “وَ أُولَئِكَ الْمُفْلِحُونَ   “ itu sudah benar, tapi kata “ هُمْ ”disini dalam istilah nahwu dia adalah dhomir fashl  (dhomir yang memisah) untuk membatasi, maksudnya itulah mereka, dan sebagai ta’kid juga bahwasanya merekalah orang-orang yang  beruntung. Jadi ini menunjukkan keutamaan amar ma'ruf nahi munkar, karena Allah I mengkhususkan keberuntungan bagi mereka yang beramar ma'ruf nahi munkar.
2.      Penyebab ummat ini menjadi ummat yang terbaik dan melebihi ummat-ummat sebelumnya. Sebagaimana firman Allah I :
﴿ كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ ، وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ  ﴾ [ آل عمران : 110 ]
Kalian adalah ummat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imran : 110)
Ini menunjukkan bahwa kita berislam bukan untuk diri kita sendiri, tapi kita dikeluarkan untuk manusia. Seorang muslim punya kepedulian kepada ummat manusia, lalu kerjanya adalah amar ma'ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah. Sampai-sampai Allah mendahulukan amar ma'ruf nahi munkar dari pada beriman kepada Allah, padahal iman kepada Allah adalah segala-galanya, dia adalah landasan seseorang beramal, dan amalan tanpa iman tidak ada manfaatnya. Namun disini Allah mendahulukan amar ma'ruf nahi munkar dari pada beriman kepada Allah, karena Allah mau menjelaskan tentang kekhususan ummat ini. Karena ummat-ummat terdahulu dalam masalah keimanan, mereka juga beriman sebagaimana ummat ini, lalu ummat ini dikatakan sebagai ummat yang terbaik karena diantara khasais (ciri khusus) yang mereka miliki, adalah ummat yang beramar ma'ruf nahi munkar. Dan kata sebagian ulama inilah penyebabnya kenapa sampai kata-kata amar ma'ruf nahi munkar didahulukan dari kata-kata iman kepada Allah.
Umar t ketika mengomentari ayat ini, beliau berkata : “Karenanya barangsiapa yang mau menjadi umat yang terbaik, maka hendaknya dia beramar ma'ruf nahi munkar”.
Jadi, ayat ini jelas menunjukkan keutamaan amar ma'ruf nahi munkar, bahwa dialah penyebab umat ini menjadi umat yang terbaik dan melebihi umat-umat sebelumnya.
3.      Amar ma'ruf nahi munkar adalah salah satu penyebab kesholihan. Sebagaimana firman Allah I :
﴿ لَـيْسُوا سَوَآءً مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَتْلُونَ ءَايَاتِ اللهِ ءَانَآءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ . يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَ أُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ  ﴾ [ آل عمران : 113 – 114 ]
 “Mereka itu tidak sama, diantara ahli kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sholat). Mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan, mereka itu termasuk orang-orang yang shaleh” (QS. Ali Imran : 113-114).
      Ahli kitab yang beriman sebelum datangnya Rasulullah r juga mendapat pujian, karena salah satu sifat yang mereka miliki yaitu amar ma'ruf nahi munkar, dan mereka dikatakan sebagai orang-orang yang sholeh. Jadi salah satu penyebab kesholehan adalah dengan beramar ma'ruf nahi munkar.
4.      Allah menafikan kebaikan dari kebanyakan bisikan-bisikan manusia, kecuali pada tiga hal yang salah satunya adalah amar ma'ruf nahi munkar. Sebagaimana firman Allah I :
﴿ لاَ خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِّنْ نَّجْوَاهُمْ إِلاَّ مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاَحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَاةِ اللهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا  ﴾ [ النسآء : 114 ]

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar” (An Nisaa : 114)
      Ini menunjukkan keutamaan amar ma'ruf nahi munkar, dimana Allah menafikan kebaikan dari kebanyakan bisikan-bisikan (pembicaraan) manusia, kecuali pada tiga hal, diantaranya adalah amar ma'ruf nahi munkar.
5.      Merupakan diantara sifat-sifat yang sangat penting dari Rasul, dan merupakan sebab keberuntungan seseorang. Sebagaimana firman Allah I :
﴿ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ اْلأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِنْدَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَاْلإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَاْلأَغْلاَلَ الَّـتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ ءَامَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ  ﴾  [ الأعراف : 157]
(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang berimana kepadanya, memuliakannnya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. Al A’raaf : 157).
      Disini Allah menyebutkan sifat-sifat Nabi r dan yang paling ditonjolkan adalah adalah amar ma'ruf nahi munkar. Jadi amar ma'ruf nahi munkar adalah tugas yang sangat diutamakan (penting) yang diemban oleh Nabi r, dan inilah yang wajib kita ikuti dan kita pikul bersama agar kita termasuk orang-orang yang beruntung.
6.      Penyebab selamatnya seseorang (satu kaum) dari siksa Allah. Sebagaimana firman Allah I :
﴿ وَإِذْ قَالَتْ أُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُونَ قَوْمًا اللهُ مُهْلِكُهُمْ أَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا ، قَالُوا مَعْذِرَةً إِلَى  رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ . فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنْجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوْءِ وَ أَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ   ﴾ [ الأعراف : 164 – 165 ]

0 komentar:

Poskan Komentar

0 people have left comments

Commentors on this Post-

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Top Web Hosting | manhattan lasik | websites for accountants